Nah, jalan-jalan lagi hehe. Jangan bosen ya, ini jalan-jalan memang selalu ada diselingi dengan kerjaan. Ceritanya kan aku baru kasi training untuk teman-teman d’BCN dan juga Best Practice Sharing dengan Oriflamers Balikpapan di acara Dream Tour Oriflame 2013.

Beres kerjaan di hari 1 dan 2, nah hari ketiganya sebelum pulang ke Jakarta kita nyempetin untuk jalan-jalan ke Tenggarong, yang konon merupakan salah satu kabupaten terkaya di republik ini. Mau lihat gimana sih kerennya kabupaten ini.

Jadilah jam 6 pagi aku dan mr Ardha sudah siap rapi jali menunggu dijemput oleh mbak Nur dan Fitri yang selama aku di sana berbaik hati nganterin dan jadi guide wisata kuliner hehe.

Perjalanan ke Tenggarong dari Balikpapan lumayan jauh, sekitar 5 jam perjalanan, sebagian besar kondisi jalannya bagus dan mulus, hanya ada di satu desa yang aku lupa namanya apa yang kurang terawat padahal itu juga termasuk area yang kaya raya, tapi karena banyak dilalui kendaraan berat pertambangan dan juga dimakan oleh air sungai Mahakam yang seringkali meluap hingga ke jalan, habislah jalanan tergerus oleh air. Nama Samarinda sendiri merujuk pada air dan daratan yang posisinya ‘sama rendah’ = samarinda, nah itu asal muasalnya :).

SD Kebanjiran di Tenggarong

SD Kebanjiran di Tenggarong

Foto Dulu di Pinggir Sungai Mahakam

Foto Dulu di Pinggir Sungai Mahakam

Sesampainya Tenggarong, ternyata tidak sespektakuler yang diberitakan (dulu sih dengernya, sepertinya sudah nggak up date lagi), beberapa fasilitas yang dimiliki kota ini tidak maksimal terpakai, misalnya gedung olahraga yang dulu dikebut dibangun untuk event olah raga (maaf lupa juga nama eventnya) sudah tidak digunakan. Lalu jembatan Tenggarong yang menghubungkan kota Tenggarong yang terbelah sungai Mahakam runtuh di tahun 2011 (sayang banget ya, pas saya ke sana kelihatan kok itu tadinya jembatan besar dan megah). Lalu pusat hiburan yang ada di pulau Kumala juga nggak jadi kami kunjungi karena jembatan yang rubuh tersebut membuat kami harus menyebarang naik kapal feri, hyaaaa pas aku lihat ferinya yang ready hanya yang kecil, nggak janji deh, lihat dari jauh sajalah pulau Kumala.

Di Depan Tempat Tidur Raja

Di Depan Tempat Tidur Raja

Akhirnya kami memilih untuk mengunjungi museum Mulawarman, museumnya lumayan bagus kondisi banguannya, hanya koleksi di dalamnya tidak terlalu banyak dan di beberapa bagian kurang terawat dan yang sedih di satu ruangan yang ada di bagian bawah, terendam air walaupun hanya menggenang, tapi sayang banget deh, museum gitu lho, dan menurut downlineku di sana kalau air sudah naik maka bisa lama baru turun genangannya, saat aku datang itu sudah 1 bulan air tergenang di beberapa jalan di pinggir sungai Mahakam. Ini ya beberapa foto-foto nya. Intinya sih untuk ukuran kabupaten terkaya di Indonesia, masih lebih mending memang kondisinya dibandingkan dengan kota-kota yang ada di Pontianak dan sekitarnya tapi tetap kelihatan masih belum maksimal, masih ada banjir yang belum teratasi. Mudah-mudahan ke depannya udah bisa ditanggulangi nggak banjir genang lagi ya. Nggak tahu deh kapan lagi bisa mampir ke Tenggarong, kalau bukan karena kebetulan ada kerjaan dari Oriflame sih kayaknya tipis kemungkinan untuk khusus datang berlibur ke sini :).

Mahkota Raja di Museum Mulawarman

Mahkota Raja di Museum Mulawarman

Did you like this? Share it: